Tampilkan postingan dengan label LifeStlye. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label LifeStlye. Tampilkan semua postingan

Kamis, 10 Oktober 2013

Cyberchondria, Penyakit Apa Sih?

PENDERITA hypochondria memiliki tren baru yang kian memperburuk keadaannya. Psikolog memeringatkan, hal ini dikarenakan meningkatnya penggunaan diagnosis melalu internet.

Banyak orang sehat mengenali gejala-gejala yang dialaminya dan mengkhawatirkan ada penyakit serius yang ada di tubuhnya. Hal ini tentu menimbulkan keprihatinan tersendiri karena membuat diri sendiri menderita.

Hypochondriac sendiri merupakan orang yang seumur hidupnya merasa menderita suatu penyakit serius dan gawat, meskipun dari pemeriksaan dokter sama sekali tidak ditemukan kelainan atau sumber penyakit yang mendukung “keyakinan” itu.

Namun, tingkatan hypochindriac kini mengalami fase baru. Meningkatnya penggunaan internet menyebabkan apa yang disebut cyberchondria.

Para peneliti menemukan bahwa mereka yang takut dengan kondisi kesehatan mereka diketahui kondisinya memburuk karena mereka mencari jawaban di internet.

Kini, menemukan jawaban atas penyakit yang diderita individu melalui internet sudah semakin umum.

Survei terbaru menunjukkan bahwa jutaan warga Inggris mencari jawaban online daripada mengunjungi dokter dan justru memertaruhkan kesehatan mereka.

Dalam studi terbaru, Dr Thomas Fergus dari Baylor University di Texas mengatakan bahwa ketakutan akan kasus atau penyakit yang tak berdasar bisa memicu kekhawatiran tentang cacat, kehilangan pekerjaan, dan ancaman medis.

"Jika saya seseorang yang tak menyukai ketidakpastian, saya bisa menjadi lebih cemas, mencari lebih lanjut, memonitor tubuh saya lebih, pergi ke dokter lebih sering dan banyak yang Anda cari dimana semakin memertimbangkan kemungkinan-kemungkinan baru,"kata Dr Fergus.

"Jika saya melihat situs tentang cedera otak traumatis dan mengalami kesulitan untuk mentoleransi ketidakpastian, saya cenderung lebih khwatir tentang penyebab benjolan di kepala saya."

Penelitian menunjukkan bahwa sekira delapan sampai 10 orang dewasa Amerika mencari informasi medis di internet. Dr Fergus melibatkan 512 orang sehat dengan usia rata-rata 33 tahun untuk menganalisis bagaimana hal tersebut memengaruhi kecemasan mereka.

Dalam studi yang dipublikasikan dalam jurnal Cyberpsychology, Behavior and Social Networking, dia menggunakan beberapa langkah, termasuk skala responden yang menilai pernyataan seperti, "Saya selalu ingin tahu apa yang terjadi tentang masa depan saya" dan "Saya menghabiskan sebagian besar waktu saya untuk mengkhawatirkan kesehatan saya."

Dua pertiga dari peserta berstatus belum menikah, lebih dari separuhnya adalah wanita. Sekira dua pertiga memiliki setidaknya gelar dua tahun dan lebih dari setengahnya bekerja setidaknya 20 jam sepekan.

Dr Fergus menyimpulkan bahwa ketakutan terburuk tentang kesehatan tidak baru, beberapa informasi medis secara online mungkin lebih mengganggu daripada informasi yang tercantum pada medis manual bahwa orang berkonsultasi atau memeroleh informasi langsung dari dokter.

Dia menambahkan, "Ketika melihat sebuah buku medis, Anda mungkin tak melihat semua kemungkinan sekaligus, tapi di internet Anda akan disajikan dengan banyak informasi.

Pekan lalu, Infromation Standart, sebuah badan yang didukung NHS melaporkan bahwa empat dari 10 orang mengaku menunda pergi ke dokter dan lebih dari setengahnya memilih mencari informasi di web, seperti dilansir Telegraph. 

Yoga Bisa Ringankan Sebagian Gejala Menopause

Kursus yoga 12-minggu dan berlatih di rumah bisa mengurangi insomnia yang dirasakan banyak perempuan yang memasuki fase menopause.
Namun, latihan relaksasi dengan yoga itu tidak secara signifikan mengurangi ruam dan keringat pada malam hari, dua keluhan umum lainnya yang dialami perempuan pada akhir masa subur.

Percobaan yang dilakukan beberapa institusi itu merekrut hampir 250 perempuan sehat, yang sebelumnya jarang berolahraga, untuk mempelajari apakah yoga dan pendekatan alami lainnya bisa membantu mengurangi keluhan menopause. Selain yoga, peneliti juga membandingkan latihan aerobik moderat dan potensi manfaat dari suplemen minyak ikan.

Yoga dikaitkan dengan kualitas tidur yang lebih baik dan kurangnya depresi, tetapi tidak ada perbaikan yang signifikan secara statistik dalam gejala ruam dan keringat pada malam hari di kalangan perempuan dalam kelompok yoga itu. Sebagai perbandingan, latihan aerobik moderat sedikit meningkatkan kualitas tidur dan mengurangi depresi. Asam lemak omega-3 dalam minyak ikan tidak terkait dengan pengurangan gejala menopause.

Temuan ini merupakan bagian dari uji coba Amerika yang disebut "Strategi Menopause: Mencari Jawaban Abadi bagi Gejala dan Studi Kesehatan," mencari alternatif bagi terapi hormon tambahan.

Terapi pengganti hormon, atau HRT, saat ini merupakan satu-satunya pengobatan yang disetujui untuk meredakan gejala menopause. Namun peneliti Katherine Newton dari Group Health di Seattle, Washington mencatat hanya sedikit perempuan yang memilih melakukan HRT. Jadi, para peneliti sedang mencari alternatif yang sehat untuk mengurangi keluhan menopause.

Studi: Tidur Siang Tingkatkan Daya Ingat Anak Prasekolah

Sebuah studi menemukan bahwa anak-anak prasekolah yang teratur tidur siang memiliki daya ingat yang lebih baik secara signifikan dibandingkan dengan yang lainnya.

Sebuah studi baru menemukan bahwa anak-anak prasekolah yang teratur tidur siang memiliki daya ingat yang lebih baik secara signifikan dibandingkan mereka yang tidak beristirahat. Penemuan ini memperlihatkan bahwa tidur siang merupakan alat pengajaran yang penting.

Di sebagian besar wilayah dunia, anak-anak kecil yang mengikuti program prasekolah secara rutin tidur siang sebagai bagian dari hari mereka. Namun di balik kepercayaan mengenai pentingnya tidur siang bagi anak-anak, belum pernah ada bukti ilmiah mengenai manfaatnya sejauh ini.

Sekarang, para peneliti dari University of Massachusetts Amherst menemukan bahwa tidur siang meningkatkan daya ingat anak-anak.

Para periset tidur mengamati 40 anak-anak yang berusia antara tiga dan lima tahun dari enam lembaga pendidikan anak usia dini. Mereka mengajarkan anak-anak tersebut sebuah permainan memori yang termasuk mempelajari tata letak gambar-gambar yang berbeda dalam suatu kotak.

Siangnya, setengah dari anak-anak itu tidur siang selama 77 menit sementara yang lainnya tetap bangun. Setelah bangun tidur, anak-anak kemudian diminta untuk mengingat lokasi-lokasi gambar tersebut.

"Jika anak tidak tidur siang, mereka lupa 15 persen dari informasi yang dipelajarinya di pagi hari. Sementara jika mereka tidur siang, mereka ingat 100 persen dari yang dipelajari sebelumnya," ujar Rebeccca Spencer, seorang profesor psikologi yang memimpin studi tersebut.

Untuk meyakinkan bahwa anak-anak yang tidak tidur siang bukanlah tidak memperhatikan atau tidak memiliki motivasi, para peneliti menguji anak-anak itu esoknya dan mendapat hasil yang sama.

Spencer mengatakan penemuan studinya menunjukkan bahwa tidur siang itu seharusnya didorong bagi anak-anak prasekolah.

"Penting untuk disadari bahwa tidur siang itu membantu mencapai tujuan akademis prasekolah," ujarnya.

Spencer mengatakan tidur siang memainkan peranan penting dalam mengkonsolidasi memori dan meningkatkan pembelajaran anak-anak.

Artikel mengenai pentingnya tidur siang bagi anak-anak prasekolah ini diterbitkan dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences.